Bolehkah Menyambut Keberangkatan/Kepulangan Jamaah Haji, Apa Hukumnya???

Bolehkah Menyambut Keberangkatan/Kepulangan Jamaah Haji, Apa Hukumnya???


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,


Ruang Wanita. Perayaan atau walimah untuk meny4mbut orang yang pulang haji, diiringi dengan acara makan-makan, hukumny4 boleh. Atau jamaah haji sendiri yang menyediakan makanan kemudian mengundang tetangganya untuk makan-makan, hukumnya boleh.

Bolehkah Menyambut Keberangkatan/Kepulangan Jamaah Haji,  Apa Hukumnya???
Ibadah Haji

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa para sahabat merayakan kegembiraan ketika menyambut kedatangan musafir, baik safar haji, umrah, berdagang, maupun yang lainnya.

baca juga :

>  PAHALA SHALAT KITA AKAN BERKURANG APABILA DILEWATI ORANG
>  untuk Kebaikan dan Keselamatan Mu,  bacalah!!!
>  GAK BACA NYESEL !!!

Dari ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,



لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَكَّةَ – أي : في فتحها – اسْتَقْبَلَتْهُ أُغَيْلِمَةُ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَحَمَلَ وَاحِداً بَيْنَ يَدَيْهِ وَآخَرَ خَلْفَهُ

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Mekah –pada waktu fathu Mekah– anak-anak dari keturunan Abdul Muthallib menyambut beliau. Ada yang dinaikkan di depan onta beliau dan yang lain dibonceng di belakang.” (HR. Bukhari 1798).
[ads-post]

Kisah yang lain, Abdullah bin Zubair, pernah berkata kepada Ibnu Ja’far radhiyallahu ‘anhu,



أَتَذْكُرُ إِذْ تَلَقَّيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَأَنْتَ وَابْنُ عَبَّاسٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، فَحَمَلَنَا وَتَرَكَكَ

Apa kamu masih ingat ketika kita menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku, kamu, dan Ibnu Abbas?
Ibnu Ja’far menjawab: “Ya, beliau menaikkan kami di atas tunggangannya dan tidak mengajakmu.” (HR. Bukkhari 3082).

Abdullah bin Ja’far juga pernah mengatakan:



كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا .فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ. فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari safar, kami menyambutnya. Aku menyambut beliau bersama Hasan atau Husein. Beliau memboncengkan kami, satu di depan dan satu di belakang. (HR. Muslim 2428).

Walimah dan acara makan-makan ketika pulang dari safar dinamakan naqi’ah. Tentang acara ini, an-Nawawi mengatakan:



يستحب النقيعة ، وهي طعام يُعمل لقدوم المسافر ، ويطلق على ما يَعمله المسافر القادم ، وعلى ما يعمله غيرُه له

Dianjurkan mengadakan naqi’ah, yaitu hidangan makanan yang disiapkan untuk kedatangan musafir. Baik disiapkan oleh musafir yang datang, atau disiapkan orang lain untuk menyambut kedatangan musafir. (al-Majmu’, 4:400).

Lebih lanjut, an-Nawawi menyebutkan dalilnya:



ومما يستدل به لها : حديث جابر رضي الله عنه ” أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما قدم المدينة من سفره نحر جزوراً أو بقرةً

Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pulang dari safar dan masuk Madinah, beliau menyembellih onta atau sapi. (HR. Bukhari 3089). (Al-Majmu’, 4/400).

Tentang walimah haji juga pernah ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Utsaimin.
Setiap tahun, masyarakat mengadakan walimah/perayaan yang mereka namakan dengan sembelihan haji, perayaan haji, atau selamatan haji. Daging yang dihidangkan terkadang diambil dari daging kurban atau menyembelih hewan. Terkadang sampai mubadzir. Apa pendapat Syaikh tentang masalah ini?

Jawab beliau:

Perayaan semacam ini tidak masalah. Tidak masalah menyambut jamaah haji ketika mereka pulang. Karena ini merayakan kehadiran mereka, dan memotivasi mereka untuk berhaji. Akan tetapi, bersikap mubadzir seperti yang kamu sebutkan atau berlebihan, itulah yang dilarang. Bersikap berlebihan hukumnya dilarang, baik dalam acara semacam ini atau karena yang lainnya.

Allah berfirman,


وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Janganlah kalian bersikap berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang boros.” (QS. Al-An’am: 141).

Allah juga berfirman,


إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Sesungguhnya orang yang melakukan tabdzir adalah teman setan.” (QS. Al-Isra: 27)
(Liqa’at Bab al-Maftuh, volume 12, no. 154)

Demikian yang dapat disampaikan mengenai Bolehkah Menyambut Keberangkatan/Kepulangan Jamaah Haji,  Apa Hukumnya???, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber: https://konsultasisyariah.com

Ruang Wanita. Apa kamu masih ingat ketika kita menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku, kamu, dan Ibnu Abbas?

Posting Komentar

[blogger][facebook]

MKRdezign

{facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {pinterest#http://pinterest.com}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget